Accessibility Tools
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus di Cibiru menerima kunjungan akademik dari Assoc. Profesor Takamichi Asakura, Ph.D. dari Hiroshima University, Jepang, dalam rangka pelaksanaan program Adjunct Professor dan penguatan kerja sama Internasional di bidang pendidikan.
Kunjungan tersebut disambut oleh pimpinan dan dosen UPI Kampus Cibiru melalui kegiatan silaturahmi dan diskusi akademik yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pertukaran cendera mata sebagai simbol persahabatan, apresiasi, dan komitmen bersama dalam memperkuat jejaring akademik antara kedua institusi.
Kehadiran Prof. Takamichi Asakura menjadi momentum penting bagi UPI Kampus Cibiru untuk memperluas wawasan global dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan guru sekolah dasar. Melalui berbagai agenda akademik yang dilaksanakan, diharapkan tercipta ruang kolaborasi yang dapat mendorong pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berdaya saing internasional.
Program Adjunct Professor ini merupakan bagian dari upaya UPI Kampus Cibiru dalam menghadirkan perspektif global ke lingkungan akademik, sekaligus memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi. Dengan adanya kolaborasi bersama guru dari berbagai negara, sivitas akademika diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya dan relevan dengan perkembangan pendidikan dunia.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama sebagai bentuk penghargaan atas terjalinnya hubungan baik dan kerja sama akademik yang terus berkembang antara UPI Kampus Cibiru dan Hiroshima University, Jepang.
SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Menjadi guru sekolah dasar di era modern bukan sekadar urusan mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung di dalam kelas. Lebih dari itu, tantangan terbesar bagi seorang pendidik adalah menjaga ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mental anak.
Hal ini dirasakan langsung oleh kelompok siswa semester 6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru yang tengah melalui babak akhir Program Penguatan Pengalaman Profesional Kependidikan (P3K) di SD Negeri 09 Cibiru, Kabupaten Bandung. Menjelang penutupan masa bakti pada akhir Juni 2026, para siswa praktikan berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk membekali para guru menangani ancaman nyata di lingkungan sekolah dasar: perundungan atau bullying.
Tantangan ini memang krusial. Merujuk pada data Setiawan & Hidayah (2022), sekitar 70 persen siswa sekolah dasar di Jawa Barat dilaporkan pernah menyaksikan atau bahkan mengalami tindakan perundungan, yang sebagian besar didominasi oleh perundungan verbal seperti keseluruhan fisik atau panggilan nama negatif.
Menurut Dan Olweus, pelopor penelitian perundungan global, tindakan ini merupakan bentuk Tertentu sistematis di mana korban berada dalam posisi tidak berdaya. Jika dibiarkan, dampaknya sangat destruktif bagi psikologis anak, memicu hilangnya rasa percaya diri (inferioritas), pengucilan sosial, luka batin yang berkelanjutan, hingga penurunan minat belajar siswa secara drastis hingga 25 persen.
Guna menekan potensi tersebut di lingkungan sekolah, mahasiswa P3K UPI menginisiasi seminar edukatif bertajuk "Penguatan Karakter Sebagai Upaya Pencegahan Bullying Pada Generasi Muda" yang diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026. Seminar ini menghadirkan narasumber utama yang merupakan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa praktikan sekaligus Pemikiran UPI, Dr. Agil Nanggala, S.Pd., M.Pd.
Membangun Fondasi Karakter Sejak Dini Dalam pemaparannya di hadapan jajaran guru SDN 09 Cibiru, Dr. Agil Nanggala menegaskan bahwa pembentukan karakter yang kokoh adalah tameng utama dalam mencegah penyimpangan perilaku seperti perundungan di sekolah dasar. Mengutip pandangan Napoleon Bonaparte, ia Menyebutkan bahwa syarat mutlak dalam terbentuknya sebuah bangsa yang didominasi oleh 80 persen aspek karakter (karakter) dan hanya 20 persen kekuatan fisik (man power). “Pembentukan karakter anak tidak bisa dilakukan secara instan atau parsial. Harus ada integrasi yang menyeluruh,” ujar Dr. Agil.
Ia memaparkan teori Thomas Lickona mengenai tiga indikator penting dalam pendidikan karakter, yaitu Moral Mengetahui (pemahaman moral), Moral Feeling (perasaan moral), dan Moral Action (tindakan nyata secara moral). Melalui indikator ketiga ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk mengetahui mana hal yang baik dan buruk, tetapi juga dilatih untuk memiliki empati (merasakan dampak buruk dari menyakiti teman) hingga akhirnya terbiasa melakukan tindakan moral yang positif dalam interaksi harian mereka.
Lebih lanjut, Dr. Agil menekankan pentingnya optimalisasi konsep Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep ini menitikberatkan pada kolaborasi yang harmonis antara tiga pilar utama kehidupan anak: lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di lingkungan sekolah dasar itu sendiri, penguatan karakter dapat terjadi melalui sinkronisasi yang tersirat (kurikulum tersembunyi), program kokurikuler, pemanfaatan metode tutor sebaya, hingga keteladanan dari para guru di lintas sektor.
Peran Guru sebagai Teladan dan Pendekatan NVC Sebagai calon pendidik yang sedang menyampaikan teori perkuliahan langsung di lapangan, kami mengamati bahwa guru kelas adalah garda terdepan dalam mengurangi potensi konflik antar-siswa. Sejalan dengan studi Jacky Mustakim dkk. (2024), guru sekolah dasar dituntut untuk aktif berperan sebagai pembimbing, pemberi motivasi, nasehat, sekaligus teladan bagi peserta didik. Guru harus tanggap mengidentifikasi apa pun terkecil di kelas agar perilaku agresif tidak berlanjut hingga usia remaja.
Salah satu solusi taktis yang ditawarkan dalam seminar ini adalah penerapan konsep Nonviolent Communication (NVC) atau komunikasi tanpa kekerasan yang dipopulerkan oleh Marshall Rosenberg. Melalui pendekatan NVC, guru dapat melatih siswa sekolah dasar untuk Mengungkapkan emosi, perasaan, dan kebutuhan mereka secara sehat tanpa harus melontarkan kekerasan verbal atau menyalahkan pihak lain. Penerapan NVC dan penguatan empati terbukti efektif menumbuhkan iklim kelas yang inklusif dan saling menghargai.
Dr. Agil juga mengingatkan para guru akan menantang pengawasan di era digital. Kecanduan gawai (gadget) dan paparan internet tanpa batas kerap mengikis daya imajinasi, daya nalar, dan daya perjuangan anak, sehingga membuat mereka mudah menyerah dan kehilangan kepekaan sosial. Oleh karena itu, penanaman literasi hukum dasar mengenai bahaya perundungan dan ketegasan regulasi sekolah harus didukung penuh oleh seluruh komite dan warga sekolah. Refleksi Akhir Pengabdian Mahasiswa Kepala SDN 09 Cibiru, Arip Hasanudin, S.Pd, SD., memberikan apresiasi yang mendalam atas permulaan seminar ilmiah populer yang dilakukan oleh mahasiswa UPI ini. Menurutnya, seminar ini memberikan penyegaran teoritis dan metodologis bagi para guru dalam mengelola kelas secara persuasif. Didampingi oleh Guru Pamong Lediana Gustirani, S.Pd., pihak sekolah berkomitmen untuk terus secara konsisten menerapkan pola pembiasaan nilai-nilai luhur dan pengawasan ketat terhadap segala bentuk perundungan fisik maupun verbal. Bagi kami, rekan-rekan mahasiswa semester 6 PGSD UPI Kampus Cibiru, merancang dan membantu pelaksanaan seminar ini memberikan pelajaran berharga yang tidak kami temukan di bangku kuliah. Kami belajar bahwa menjadi seorang guru sejati bukan hanya tentang seberapa matang kami menguasai materi terbuka, melainkan seberapa tulus kami mampu merangkul emosi anak-anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak.
Perjalanan P3K kami di SDN 09 Cibiru mungkin akan segera berakhir pada penghujung Juni 2026. Namun, kami berharap riak kecil yang kami mulai melalui seminar penguatan karakter ini dapat terus bergulir, membantu SDN 09 Cibiru tumbuh menjadi sekolah yang bebas dari perundungan, ramah bagi setiap anak, dan melahirkan generasi muda yang tangguh berkarakter.
SDGs 4 : Pendidikan Berkualitas
Rapat Panitia Reuni Alumni PGSD S1 dan S2
Panitia Reuni Alumni PGSD S1 dan S2 mengadakan rapat koordinasi guna membahas persiapan pelaksanaan kegiatan reuni yang akan datang. Rapat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, menyusun rencana kerja, serta membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing panitia agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Dalam rapat tersebut dibahas berbagai hal teknis, di antaranya penyusunan konsep acara, pendataan alumni, strategi publikasi dan komunikasi, serta kebutuhan pendukung lainnya. Setiap koordinator bidang juga menyampaikan perkembangan tugas yang telah dilakukan dan rencana tindak lanjut yang perlu segera direalisasikan.
Melalui rapat koordinasi ini, diharapkan seluruh panitia dapat bekerja secara sinergis dan optimal dalam mempersiapkan kegiatan reuni alumni PGSD S1 dan S2, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta yang hadir.
SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
TOKYO, JEPANG – Semangat kolaborasi lintas generasi dalam dunia akademik kembali dibawakan oleh perwakilan dari Indonesia. Dinie Anggraeni Dewi, M.Pd., MH , dosen program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), bersama Fathiannisa Aurelia Nugraha , mahasiswa program studi PG PAUD Universitas Pendidikan Indonesia , resmi berpartisipasi dalam konferensi konferensi internasional, The 5th NERPS Conference 2026 .
Acara yang diselenggarakan oleh The Network for Education and Research on Peace and Sustainability (NERPS) Universitas Hiroshima bekerja sama dengan United Nations University (UNU) ini berlangsung pada 4–7 Maret 2026 di Markas Besar UNU, Tokyo.
Konferensi tahun ini mengusung tema krusial mengenai peran inovasi teknologi dalam memperkuat multilateralisme demi perdamaian dan keabadian. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, konflik bersenjata, dan ketimpangan sosial, Dr. Dinie dan Fathiannisa hadir untuk berbagi perspektif akademis mengenai bagaimana sektor pendidikan dapat beradaptasi dengan kemajuan digital.
“Kehadiran kami di sini adalah bentuk nyata dari upaya transdisipliner. Kami ingin menyoroti bagaimana teknologi, jika dikelola dengan bijak sejak pendidikan dasar dan anak usia dini, dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih damai dan berkelanjutan,” ujar Dr. Dinie di sela-sela kegiatan.
Selama empat hari, delegasi mengikuti serangkaian agenda padat yang meliputi:
· Presentasi Riset: Memaparkan hasil penelitian terbaru di hadapan praktisi dan akademisi dunia.
· Expert Roundtables: Berdiskusi langsung dengan pakar internasional mengenai implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
· Lokakarya Inovatif: Menjelajahi alat digital baru yang dapat memfasilitasi pertukaran budaya dan pemantauan risiko lingkungan.
Partisipasi Dr. Dinie dan Fathiannisa sejalan dengan seruan Sekretaris Jenderal PBB mengenai pentingnya kerja sama digital. Dalam era mana teknologi dapat menjadi ancaman peluang sekaligus, keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa PGSD serta PG PAUD ini menunjukkan bahwa fondasi perdamaian harus dibangun sejak dini melalui sistem pendidikan yang melek teknologi namun tetap berlandaskan kemanusiaan.
Konferensi NERPS 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertukaran ide, tetapi juga menjadi titik awal bagi kemitraan penelitian transdisipliner antara institusi pendidikan di Indonesia dengan jaringan peneliti global demi mencapai masa depan yang lebih hijau dan harmonis.
SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
UPI Kampus Cibiru kembali mencetak calon pendidik unggul melalui prestasi mahasiswa Program Studi PGSD. Empat mahasiswa berhasil lolos sebagai finalis Lomba Cakra Guru, kompetisi yang menguji inovasi dan kompetensi calon guru dalam merancang pembelajaran kreatif dan berdampak.
Keberhasilan ini didukung oleh pendampingan intensif, penguatan kompetensi pedagogik, serta pembinaan berbasis praktik nyata. Dalam prosesnya, mahasiswa didampingi oleh dosen pembimbing Ranu Sudarmansyah yang memberikan arahan strategis dalam pengembangan ide pembelajaran inovatif.
Para finalis telah melalui seleksi ketat mulai dari administrasi, penilaian proposal, hingga presentasi di hadapan dewan juri. Partisipasi ini merupakan bagian dari implementasi program pembelajaran “berdampak” yang mendorong lahirnya karya nyata di bidang pendidikan.
Capaian tersebut juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui pengembangan metode pembelajaran yang inklusif, kreatif, dan adaptif di tingkat sekolah dasar.
SDG 4 : Pendidikan Berkualitas
Halaman 2 dari 15