Accessibility Tools
Cibiru, 9 Juni 2026 - UPI Kampus Cibiru menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Aplikasi Whistleblower System (WBS) sebagai bagian dari upaya penguatan Zona Integritas dan peningkatan tata kelola yang bersih, transparan, serta akuntabel di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru. Kegiatan yang dilaksanakan secara berani melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta sivitas akademika UPI Kampus Cibiru.
Kegiatan diawali dengan Beragam dari Prof. Dr. Hj. leli Halimah, M.Pd. selaku Ketua Zona Integritas UPI Kampus Cibiru. Dalam berbagai hal, beliau menekankan pentingnya membangun integritas budaya sebagai tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika. Menurutnya, penegakan sistem pengawasan dan pelaporan yang efektif merupakan salah satu langkah strategi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang profesional dan transparan.
Pada kegiatan ini, Muhammad Taufik Dwi Putra, S.Tr.Kom., MTI, beserta tim kepengawasan hadir sebagai narasumber yang memperkenalkan aplikasi pendukung wilayah zona integritas bernama “Sitera Gatra”. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan WBS, tujuan dan manfaat sistem, jenis laporan yang dapat disampaikan, mekanisme pelaporan, hingga tata cara penggunaan aplikasi secara praktis. Dalam pemaparannya, aplikasi WBS ini merupakan sarana yang disediakan untuk menampung laporan terkait dugaan pelanggaran yang terjadi di lingkungan UPI Kampus Cibiru. Sistem ini dirancang untuk menjamin keamanan pelapor, menjaga kerahasiaan informasi, serta memastikan setiap laporan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Terselenggaranya kegiatan Sosialisasi Aplikasi Whistleblower System (WBS), UPI Kampus Cibiru berharap seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa, dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya peran Whistleblower System dalam mendukung penerapan Zona Integritas dan berpartisipasi aktif dalam menjaga integritas institusi serta mendukung terwujudnya tata kelola universitas yang bersih, transparan, akuntabel, dan inklusif pada pelayanan yang berkualitas.
SDGs 4 : Pendidikan Berkualitas
CIBIRU, 8 Juni 2026 – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru bersama SD Labschool UPI Cibiru menyelenggarakan kegiatan kolaboratif internasional bertajuk “Empowering Future Generations” yang menghadirkan tim dari Hiroshima University, Jepang, yaitu Assoc. Profesor Takamichi Asakura, Ph.D. dan Dr. Taniguchi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kerja sama Internasional dalam bidang pendidikan dasar sekaligus memperluas pengalaman belajar seluruh siswa, guru, dan siswa.
Melalui kolaborasi antara dosen PGSD UPI Cibiru, guru SD Labschool, serta tim dari Hiroshima University, kegiatan ini menghadirkan ruang interaksi yang mempertemukan berbagai perspektif pendidikan dari Indonesia dan Jepang. Para peserta terlibat dalam diskusi, observasi, serta praktik pembelajaran yang menyampaikan pentingnya kolaborasi global dalam mempersiapkan generasi masa depan.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah implementasi dan pengenalan Suralanet , sebuah platform pembelajaran digital yang digunakan sebagai bagian dari penelitian pendidikan yang sedang dikembangkan. Dalam kegiatan ini, para pengajar Hiroshima University bersama dosen PGSD UPI Cibiru melakukan observasi dan pertukaran ide mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif, inklusif, dan fokus pada kebutuhan peserta didik abad ke-21.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pertukaran pengetahuan antar guru, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi siswa. Dengan penuh antusiasme, para siswa mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk mendorong keterampilan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan multikultural. Interaksi langsung dengan akademisi dan peserta dari Jepang memberikan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai dunia pendidikan global.
Bagi PGSD UPI Cibiru, kegiatan ini merupakan wujud nyata program komitmen studi dalam memperkuat Internasionalisasi pendidikan melalui kolaborasi akademik, penelitian, dan pengembangan inovasi pembelajaran. Kehadiran mitra dari Hiroshima University membuka peluang untuk memperluas kerja sama di bidang pendidikan guru, penelitian bersama, pertukaran akademik, serta pengembangan model pembelajaran yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Melalui semangat “Empowering Future Generations” , PGSD UPI Cibiru dan Hiroshima University menunjukkan bahwa kolaborasi lintas negara dapat menjadi sarana yang efektif untuk menciptakan inovasi pendidikan sekaligus membangun generasi muda yang memiliki wawasan global, kemampuan berkolaborasi, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan dokumentasi bersama yang menandai terjalinnya hubungan akademik yang semakin erat antara PGSD UPI Cibiru, SD Labschool UPI Cibiru, dan Hiroshima University Jepang. Diharapkan kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan dasar yang berkualitas di tingkat nasional maupun internasional.
SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus di Cibiru menerima kunjungan akademik dari Assoc. Profesor Takamichi Asakura, Ph.D. dari Hiroshima University, Jepang, dalam rangka pelaksanaan program Adjunct Professor dan penguatan kerja sama Internasional di bidang pendidikan.
Kunjungan tersebut disambut oleh pimpinan dan dosen UPI Kampus Cibiru melalui kegiatan silaturahmi dan diskusi akademik yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pertukaran cendera mata sebagai simbol persahabatan, apresiasi, dan komitmen bersama dalam memperkuat jejaring akademik antara kedua institusi.
Kehadiran Prof. Takamichi Asakura menjadi momentum penting bagi UPI Kampus Cibiru untuk memperluas wawasan global dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan guru sekolah dasar. Melalui berbagai agenda akademik yang dilaksanakan, diharapkan tercipta ruang kolaborasi yang dapat mendorong pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berdaya saing internasional.
Program Adjunct Professor ini merupakan bagian dari upaya UPI Kampus Cibiru dalam menghadirkan perspektif global ke lingkungan akademik, sekaligus memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi. Dengan adanya kolaborasi bersama guru dari berbagai negara, sivitas akademika diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya dan relevan dengan perkembangan pendidikan dunia.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama sebagai bentuk penghargaan atas terjalinnya hubungan baik dan kerja sama akademik yang terus berkembang antara UPI Kampus Cibiru dan Hiroshima University, Jepang.
SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Menjadi guru sekolah dasar di era modern bukan sekadar urusan mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung di dalam kelas. Lebih dari itu, tantangan terbesar bagi seorang pendidik adalah menjaga ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mental anak.
Hal ini dirasakan langsung oleh kelompok siswa semester 6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru yang tengah melalui babak akhir Program Penguatan Pengalaman Profesional Kependidikan (P3K) di SD Negeri 09 Cibiru, Kabupaten Bandung. Menjelang penutupan masa bakti pada akhir Juni 2026, para siswa praktikan berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk membekali para guru menangani ancaman nyata di lingkungan sekolah dasar: perundungan atau bullying.
Tantangan ini memang krusial. Merujuk pada data Setiawan & Hidayah (2022), sekitar 70 persen siswa sekolah dasar di Jawa Barat dilaporkan pernah menyaksikan atau bahkan mengalami tindakan perundungan, yang sebagian besar didominasi oleh perundungan verbal seperti keseluruhan fisik atau panggilan nama negatif.
Menurut Dan Olweus, pelopor penelitian perundungan global, tindakan ini merupakan bentuk Tertentu sistematis di mana korban berada dalam posisi tidak berdaya. Jika dibiarkan, dampaknya sangat destruktif bagi psikologis anak, memicu hilangnya rasa percaya diri (inferioritas), pengucilan sosial, luka batin yang berkelanjutan, hingga penurunan minat belajar siswa secara drastis hingga 25 persen.
Guna menekan potensi tersebut di lingkungan sekolah, mahasiswa P3K UPI menginisiasi seminar edukatif bertajuk "Penguatan Karakter Sebagai Upaya Pencegahan Bullying Pada Generasi Muda" yang diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026. Seminar ini menghadirkan narasumber utama yang merupakan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa praktikan sekaligus Pemikiran UPI, Dr. Agil Nanggala, S.Pd., M.Pd.
Membangun Fondasi Karakter Sejak Dini Dalam pemaparannya di hadapan jajaran guru SDN 09 Cibiru, Dr. Agil Nanggala menegaskan bahwa pembentukan karakter yang kokoh adalah tameng utama dalam mencegah penyimpangan perilaku seperti perundungan di sekolah dasar. Mengutip pandangan Napoleon Bonaparte, ia Menyebutkan bahwa syarat mutlak dalam terbentuknya sebuah bangsa yang didominasi oleh 80 persen aspek karakter (karakter) dan hanya 20 persen kekuatan fisik (man power). “Pembentukan karakter anak tidak bisa dilakukan secara instan atau parsial. Harus ada integrasi yang menyeluruh,” ujar Dr. Agil.
Ia memaparkan teori Thomas Lickona mengenai tiga indikator penting dalam pendidikan karakter, yaitu Moral Mengetahui (pemahaman moral), Moral Feeling (perasaan moral), dan Moral Action (tindakan nyata secara moral). Melalui indikator ketiga ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk mengetahui mana hal yang baik dan buruk, tetapi juga dilatih untuk memiliki empati (merasakan dampak buruk dari menyakiti teman) hingga akhirnya terbiasa melakukan tindakan moral yang positif dalam interaksi harian mereka.
Lebih lanjut, Dr. Agil menekankan pentingnya optimalisasi konsep Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep ini menitikberatkan pada kolaborasi yang harmonis antara tiga pilar utama kehidupan anak: lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di lingkungan sekolah dasar itu sendiri, penguatan karakter dapat terjadi melalui sinkronisasi yang tersirat (kurikulum tersembunyi), program kokurikuler, pemanfaatan metode tutor sebaya, hingga keteladanan dari para guru di lintas sektor.
Peran Guru sebagai Teladan dan Pendekatan NVC Sebagai calon pendidik yang sedang menyampaikan teori perkuliahan langsung di lapangan, kami mengamati bahwa guru kelas adalah garda terdepan dalam mengurangi potensi konflik antar-siswa. Sejalan dengan studi Jacky Mustakim dkk. (2024), guru sekolah dasar dituntut untuk aktif berperan sebagai pembimbing, pemberi motivasi, nasehat, sekaligus teladan bagi peserta didik. Guru harus tanggap mengidentifikasi apa pun terkecil di kelas agar perilaku agresif tidak berlanjut hingga usia remaja.
Salah satu solusi taktis yang ditawarkan dalam seminar ini adalah penerapan konsep Nonviolent Communication (NVC) atau komunikasi tanpa kekerasan yang dipopulerkan oleh Marshall Rosenberg. Melalui pendekatan NVC, guru dapat melatih siswa sekolah dasar untuk Mengungkapkan emosi, perasaan, dan kebutuhan mereka secara sehat tanpa harus melontarkan kekerasan verbal atau menyalahkan pihak lain. Penerapan NVC dan penguatan empati terbukti efektif menumbuhkan iklim kelas yang inklusif dan saling menghargai.
Dr. Agil juga mengingatkan para guru akan menantang pengawasan di era digital. Kecanduan gawai (gadget) dan paparan internet tanpa batas kerap mengikis daya imajinasi, daya nalar, dan daya perjuangan anak, sehingga membuat mereka mudah menyerah dan kehilangan kepekaan sosial. Oleh karena itu, penanaman literasi hukum dasar mengenai bahaya perundungan dan ketegasan regulasi sekolah harus didukung penuh oleh seluruh komite dan warga sekolah. Refleksi Akhir Pengabdian Mahasiswa Kepala SDN 09 Cibiru, Arip Hasanudin, S.Pd, SD., memberikan apresiasi yang mendalam atas permulaan seminar ilmiah populer yang dilakukan oleh mahasiswa UPI ini. Menurutnya, seminar ini memberikan penyegaran teoritis dan metodologis bagi para guru dalam mengelola kelas secara persuasif. Didampingi oleh Guru Pamong Lediana Gustirani, S.Pd., pihak sekolah berkomitmen untuk terus secara konsisten menerapkan pola pembiasaan nilai-nilai luhur dan pengawasan ketat terhadap segala bentuk perundungan fisik maupun verbal. Bagi kami, rekan-rekan mahasiswa semester 6 PGSD UPI Kampus Cibiru, merancang dan membantu pelaksanaan seminar ini memberikan pelajaran berharga yang tidak kami temukan di bangku kuliah. Kami belajar bahwa menjadi seorang guru sejati bukan hanya tentang seberapa matang kami menguasai materi terbuka, melainkan seberapa tulus kami mampu merangkul emosi anak-anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak.
Perjalanan P3K kami di SDN 09 Cibiru mungkin akan segera berakhir pada penghujung Juni 2026. Namun, kami berharap riak kecil yang kami mulai melalui seminar penguatan karakter ini dapat terus bergulir, membantu SDN 09 Cibiru tumbuh menjadi sekolah yang bebas dari perundungan, ramah bagi setiap anak, dan melahirkan generasi muda yang tangguh berkarakter.
SDGs 4 : Pendidikan Berkualitas
Rapat Panitia Reuni Alumni PGSD S1 dan S2
Panitia Reuni Alumni PGSD S1 dan S2 mengadakan rapat koordinasi guna membahas persiapan pelaksanaan kegiatan reuni yang akan datang. Rapat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, menyusun rencana kerja, serta membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing panitia agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Dalam rapat tersebut dibahas berbagai hal teknis, di antaranya penyusunan konsep acara, pendataan alumni, strategi publikasi dan komunikasi, serta kebutuhan pendukung lainnya. Setiap koordinator bidang juga menyampaikan perkembangan tugas yang telah dilakukan dan rencana tindak lanjut yang perlu segera direalisasikan.
Melalui rapat koordinasi ini, diharapkan seluruh panitia dapat bekerja secara sinergis dan optimal dalam mempersiapkan kegiatan reuni alumni PGSD S1 dan S2, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta yang hadir.
SDGs 17 : Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Halaman 1 dari 14