Accessibility Tools
UPI Cibiru – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2025, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Cibiru menggelar upacara bendera yang berlangsung khidmat dan penuh semangat nasionalisme. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh sivitas akademika kampus, termasuk para dosen, tenaga kependidikan (tendik), serta Ikatan Ibu-ibu Kampus (IIK). Selain itu, turut hadir pula perwakilan guru dan siswa dari Sekolah Laboratorium UPI Cibiru, yaitu jenjang SD, SMP, dan SMA.
Petugas upacara kali ini dipercayakan kepada anggota Probumsil (Pasukan Pengibar Bendera dan Pramuka Bumi Siliwangi), yang melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kedisiplinan.
Direktur Kampus UPI Cibiru, yang bertindak sebagai pembina upacara, dalam amanatnya menyampaikan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan. Ia menekankan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
"Pancasila harus kita maknai dan hayati bukan hanya dalam seremonial semata, tetapi juga sebagai nilai yang hidup dalam tindakan kita sehari-hari—baik di lingkungan kampus, sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Pendidik dan pelajar memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila," ujar beliau dalam pidatonya.
Upacara berlangsung dengan tertib dan ditutup dengan pembacaan doa serta menyanyikan lagu-lagu nasional. Kegiatan ini menjadi momentum reflektif bagi seluruh peserta untuk terus memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam semangat kebhinekaan.Ibud, 2/6/2025
Turut Berduka Cita
Keluarga Besar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru
Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un
Keluarga besar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya:
Dr. Sahroni, S.Sn., M.Pd.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kami juga menyampaikan doa dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bandung, [tanggal wafat atau tanggal rilis ucapan]
Keluarga Besar
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru
Hari raya Idul Adha merupakan pesan langit yang mendarat di Bumi. Pesan itu difirmankan Allah SWT belasan abad lalu kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut merupakan pesan simbolik agama untuk mengajak umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail. Idul Adha adalah satu dari dua hari Raya yang sangat Istimewa bagi umat Islam. Hari raya Idul Fitri dilaksanakan kaum muslimin pada setiap tanggal 1 Syawal tahun Hijriayah. Sedangkan Hari raya Idul Adha dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Idul Adha sering juga disebut Idul kurban dan disusul dengan hari Tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. Pada hari raya dan tiga hari tasyrik ini, umat muslim tidak diperbolehkan berpuasa. Pada saat hari Idul kurban dan tiga hari Tasyrik, daging hewan qurban mulai dibagikan dan umat muslim ataupun nonmuslim dipersilahkan untuk menikmatinya.
Generasi Ismail Abad 21
Kisah Nabi Ismail AS sangat istimewa. Nabiullah Ismail diabadikan Allah SWT dalam Al Quran sebanyak 12 ayat. Sosok Nabi Ismail adalah buah dari do’a Nabi Ibrahim yang meminta anak saleh kepada Allah Ta'ala. Doa beliau diabadikan dalam Al-Qur'an surah As Saffat 100, Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shaleh. Saat Nabi Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. Jawaban Nabi Ismail AS dengan tegas mengatakan, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. Dialog ini tercatat dalam Al Qur’an surah As Saffat 103.
Pesan simbolik pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan kepatuhan Nabi Ismail AS menjadikan Idul Kurban dan hari Tasrik merupakan momen istimewa bagi umat Muslim. Bagi umat Islam khususnya “Generasi muda Ismail” Abad 21 saat ini, minimal ada lima pelajaran yang bisa kita petik atas peristiwa Idul Kurban.
Pertama, spirit Idul Kurban hakekatnya perlunya umat Islam untuk terus meneladani kesalehan pengorbanan seorang ayah yaitu Nabi Ibrahim dan ketegaran putranya Nabi Ismail. Spirit Idul kurban bagi generasi muda saat ini atau generasi Z, dan generasi Alpha adalah sisi lain untuk lebih meningkatkan kompetensi spiritual (spiritual comperencies) kepada Sang Khalik. Dalam konteks kekinian, generasi muda dituntut menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa.
Kedua, refleksi ketaatan hamba kepada Sang Khalik. Firman Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS merupakan uji ketaatan dan keihklasan hamba kepada Sang Khalik. Bagi generasi muda Ismail Abad 21, semangat ketakwaan kepada Allah SWT dan kesetiaan kepada orangtua, seperti ditunjukkan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim patut terus ditingkatkan.
Ketiga, perlunya peningkatan empati dan pengendalian diri. Pengelolaan diri dan peduli terhadap sesama adalah ciri utama seorang muslim. Ibadah kurban adalah pengejawantahan diri untuk berbuat kebaikan, memuliakan sesama, menghargai orang lain, dan berempati terhadap lingkungan sekitar. Ibadah penyembelihan kurban sebagai bentuk penghambaan dan ketakwaan kepada Sang Kholik, tak hanya berdimensi ibadah personal, namun juga memiliki makna ibadah sosial. Yaitu melalui distribusi daging hewan kurban kepada segenap kaum muslimin dan juga masyarakat non muslim untuk bersama sama mengkonsumsi dan menikmati masakan protein hewani yang berasal dari daging hewan kurban.
Keempat, Idul kurban merupakan ibadah sosial. Ritual kurban merefleksikan seorang hamba yang mampu menyiapkan hewan kurban. Hewan kurban tersebut disembelih dan dibagikan kepada yang berhak. Di hari Idul Adha dan hari Tasyrik, saatnya umat Islam bersyukur, bersukaria bersama dengan mengkonsumsi makanan, minuman, nutrisi hewani dari hewan kurban secara bersama. Spirit tolong menolong, saling menyantuni termasuk berbagi daging kurban merupakan ibadah sosial yang paling nyata. Manfaat kurban dirasakan banyak pihak, mulai dari para peternak, pedagang hewan, distributor hewan, jasa angkutan, jagal penyembelih, sampai pada lapisan masyarakat.
Kelima, ibadah kurban merupakan refleksi kesetiakawanan global. Perayaan Idul kurban dan hari Tasyrik, dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin di setiap negara di berbagai belahan dunia. Peduli sesama merupakan penciri Idul Adha, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.
Itulah hikmah Idul Adha sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Khalik. Spirit Idul Kurban perlu terus dikumandangkan, agar umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail. Melalui ibadah Qurban, yuk kita wujudkan lahirnya Generasi Ismail Abad 21!!. (Cbr)
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru menyelenggarakan Bedah Buku AI, sebuah forum ilmiah yang mengupas karya terbaru Prof. Prof (HC) Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., M.Kom., MCE., MTCNA. pada kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Professor Koji Kurusu, Ph.D, sebagai pakar STEAM dan CEO AZALEE Group, Ms Sakura ijuin, sebagai Chairman. Ketiga delegasi tersebut dihadirkan oleh Tofik, ST. sebagai Founder dan Guiding Ventura Collaborative UPI Cibiru, serta Prof. Eko dari Universitas Indonesia, juga Rektor UNLA. Acara ini menjadi ruang reflektif sekaligus inspiratif yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan dalam mendalami potensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam dunia pendidikan Indonesia. Selasa, (20/05).
Buku yang dibedah membahas secara mendalam tantangan dan peluang implementasi AI di ruang-ruang belajar, dengan pendekatan humanistik yang menekankan pentingnya etika, empati, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam pemanfaatan teknologi. Prof. Deni, yang dikenal sebagai tokoh terdepan dalam bidang teknologi pendidikan di Tanah Air, menyampaikan bahwa buku ini lahir sebagai bentuk tanggapan kritis terhadap percepatan transformasi digital yang kini tak terelakkan di dunia pendidikan.
“Pendidikan masa depan bukan hanya tentang digitalisasi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat memanusiakan proses belajar,” tegas Prof. Deni dalam sesi pemaparan.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan hadirnya dua narasumber praktisi pendidikan yang memberikan perspektif nyata dari lapangan, yakni Risman Nur Hakim, S.Pd., guru di SDN Citepok, Sumedang, serta Muchammad Ramdhan, M.Pd., guru di SMP Labschool UPI Cibiru. Keduanya membagikan pengalaman penerapan teknologi, khususnya AI, dalam pembelajaran di tingkat dasar dan menengah. Mereka juga memberikan respon kritis terhadap isi buku serta relevansinya dengan konteks pendidikan lokal, sekaligus menyuarakan pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi perubahan digital.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional menjadi latar yang kuat dalam penyelenggaraan acara ini, mengingat semangat kebangkitan bangsa erat kaitannya dengan kebangkitan intelektual dan inovasi pendidikan. Dalam semangat itulah, UPI Cibiru meneguhkan dirinya sebagai pusat pemikiran dan penggerak transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Diharapkan, bedah buku ini mampu memicu tumbuhnya diskursus kritis dan riset lanjutan mengenai integrasi AI yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga luhur dalam nilai. Buku ini menjadi bagian dari kontribusi nyata Prof. Deni Darmawan dalam memperkaya literatur pendidikan nasional dan menyongsong masa depan pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berkeadaban.(Ibud, Farhan)
Pakar pendidikan asal Jepang Dr. Koji Kurusu, M.D., Ph.D., menekankan pentingnya pendidikan STEAM sejak dini guna menumbuhkan kreativitas, etika, dan empati, di tengah semakin berkembangnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pendidikan STEAM merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan (Science), teknologi (Technology), teknik (Engineering), seni (Art), dan matematika (Mathematics) untuk memecahkan masalah yang nyata.
Menurut Koji, AI memang semakin canggih, namun tetap manusia sebagai subjek pertama yang mengajukan pertanyaan.
"Pendidikan sejak dini penting agar generasi mendatang mampu mengarahkan AI, tidak sekadar menggunakan," ujar Koji saat memberikan kuliah umum tentang pendidikan STEAM kepada mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Kampus Cibiru, Bandung, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Pendiri yayasan Jepang-Indonesia Sakuranesia, yakni Tovic Rustam dan Sakura Ijuin, juga menuturkan hal senada. Menurut Sakura, pendidikan harus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, meskipun terjadi perkembangan teknologi yang semakin canggih.
"Namun, apakah teknologi itu menyentuh hati manusia," ujar Sakura.
Sakura pun menegaskan manusia perlu membedakan antara hal yang perlu diajarkan dan tidak, serta membina imajinasi, empati, dan kemampuan mengambil keputusan sejak usia dini.
Sementara itu, Tovic Rustam mengungkapkan Yayasan Sakuranesia ingin menjadi jembatan antara visi pendidikan pemerintah dan praktik nyata di lapangan.
Tovic berharap diskusi tersebut menjadi refleksi penting bagi masa depan pendidikan pada era AI, serta memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang pada bidang pendidikan anak usia dini maupun inovasi STEAM.
Pada sesi tersebut, pengurus Yayasan Sakuranesia memperkenalkan beragam inisiatif yang telah dilakukan mulai dari dukungan terhadap pendidikan seni melalui Jember Fashion Carnival, hingga kolaborasi dengan Yuto Ogata yang merupakan CEO PT. STARUP & Chairman Positive Artificial Intelligence (PAI).
Kolaborasi tersebut terkait proyek kecerdasan buatan praktis yang menghubungkan mahasiswa Indonesia dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui pendekatan teknologi dan sosial.
Halaman 6 dari 21