Accessibility Tools

  • Ultraman
  • SDGs

Memutus Rantai Perundungan di SD: Kolaborasi Mahasiswa P3K UPI dan Guru SDN Cibiru 09 Bersama Dr. Agil Nanggala S.Pd., M.Pd

Menjadi guru sekolah dasar di era modern bukan sekadar urusan mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung di dalam kelas. Lebih dari itu, tantangan terbesar bagi seorang pendidik adalah menjaga ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mental anak.

 

Hal ini dirasakan langsung oleh kelompok mahasiswa semester 6 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru yang tengah menjalani babak akhir Program Penguatan Pengalaman Profesional Kependidikan (P3K) di SD Negeri 09 Cibiru, Kabupaten Bandung. Menjelang penutupan masa bakti pada akhir Juni 2026, para mahasiswa praktikan berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk membekali para guru menghadapi ancaman nyata di lingkungan sekolah dasar: perundungan atau bullying.

 

Tantangan ini memang krusial. Merujuk pada data Setiawan & Hidayah (2022), sekitar 70 persen siswa sekolah dasar di Jawa Barat dilaporkan pernah menyaksikan atau bahkan mengalami tindakan perundungan, yang mayoritas didominasi oleh perundungan verbal seperti ejekan fisik atau panggilan nama negatif.

 

Menurut Dan Olweus, pelopor riset perundungan global, tindakan ini merupakan bentuk penindasan sistematis di mana korban berada dalam posisi tidak berdaya. Jika dibiarkan, dampaknya sangat destruktif bagi psikologis anak, memicu hilangnya rasa percaya diri (inferioritas), pengucilan sosial, luka batin yang berkelanjutan, hingga penurunan minat belajar siswa secara drastis hingga 25 persen.

 

Guna menekan potensi tersebut di lingkungan sekolah, mahasiswa P3K UPI menginisiasi seminar edukatif bertajuk "Penguatan Karakter Sebagai Upaya Pencegahan Bullying Pada Generasi Muda" yang diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026. Seminar ini menghadirkan narasumber utama yang merupakan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiswa praktikan sekaligus akademisi UPI, Dr. Agil Nanggala, S.Pd., M.Pd..

 

Membangun Fondasi Karakter Sejak Dini

Dalam pemaparannya di hadapan jajaran guru SDN 09 Cibiru, Dr. Agil Nanggala menegaskan bahwa pembentukan karakter yang kokoh adalah tameng utama dalam mencegah perilaku menyimpang seperti perundungan di sekolah dasar. Mengutip pandangan Napoleon Bonaparte, ia menyebutkan bahwa syarat mutlak dalam pembentukan sebuah bangsa yang kuat didominasi oleh 80 persen aspek karakter (character) dan hanya 20 persen kekuatan fisik (man power).

 

"Pembentukan karakter anak tidak bisa dilakukan secara instan atau parsial. Harus ada integrasi yang menyeluruh," ujar Dr. Agil.

 

Ia memaparkan teori Thomas Lickona mengenai tiga indikator penting dalam pendidikan karakter, yaitu Moral Knowing (pemahaman moral), Moral Feeling (perasaan moral), dan Moral Action (tindakan nyata secara moral). Melalui ketiga indikator ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk tahu mana hal yang baik dan buruk, tetapi juga dilatih untuk memiliki empati (merasakan dampak buruk dari menyakiti teman) hingga akhirnya terbiasa melakukan tindakan moral yang positif dalam interaksi harian mereka.

 

Lebih lanjut, Dr. Agil menekankan pentingnya optimalisasi konsep Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep ini menitikberatkan pada kolaborasi yang harmonis antara tiga pilar utama kehidupan anak: lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di lingkungan sekolah dasar sendiri, penguatan karakter dapat diintegrasikan melalui kurikulum yang tersirat (hidden curriculum), program kokurikuler, pemanfaatan metode tutor sebaya, hingga keteladanan dari para guru di lintas sektor.

 

Peran Guru sebagai Teladan dan Pendekatan NVC

Sebagai calon pendidik yang sedang mempraktikkan teori perkuliahan langsung di lapangan, kami mengamati bahwa guru kelas adalah garda terdepan dalam meredam potensi konflik antar-siswa. Sejalan dengan studi Jacky Mustakim dkk. (2024), guru sekolah dasar dituntut untuk aktif berperan sebagai pembimbing, pemberi motivasi, penasihat, sekaligus teladan bagi peserta didik. Guru harus tanggap mengidentifikasi gesekan sekecil apa pun di kelas agar perilaku agresif tidak berlanjut hingga usia remaja.

 

Salah satu solusi taktis yang ditawarkan dalam seminar ini adalah penerapan konsep Nonviolent Communication (NVC) atau komunikasi tanpa kekerasan yang dipopulerkan oleh Marshall Rosenberg. Melalui pendekatan NVC, guru dapat melatih siswa sekolah dasar untuk mengungkapkan emosi, perasaan, dan kebutuhan mereka secara sehat tanpa harus melontarkan

 

kekerasan verbal atau menyalahkan pihak lain. Penerapan NVC dan penguatan empati terbukti efektif menumbuhkan iklim kelas yang inklusif dan saling menghargai.

 

Dr. Agil juga mengingatkan para guru akan tantangan pengawasan di era digital. Kecanduan gawai (gadget) dan paparan internet tanpa batas kerap kali mengikis daya imajinasi, daya nalar, dan daya juang anak, sehingga membuat mereka mudah menyerah dan kehilangan kepekaan sosial. Oleh karena itu, penanaman literasi hukum dasar mengenai bahaya perundungan dan ketegasan regulasi sekolah harus didukung penuh oleh seluruh komite dan warga sekolah.

 

Refleksi Akhir Pengabdian Mahasiswa

Kepala SDN 09 Cibiru, Arip Hasanudin, S.Pd, SD., memberikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif seminar ilmiah populer yang digerakkan oleh mahasiswa UPI ini. Menurutnya, seminar ini memberikan penyegaran teoretis dan metodologis bagi para guru dalam mengelola kelas secara persuasif. Didampingi oleh Guru Pamong Lediana Gustirani, S.Pd., pihak sekolah berkomitmen untuk terus konsisten menerapkan pola pembiasaan nilai-nilai luhur dan pengawasan ketat terhadap segala bentuk perundungan fisik maupun verbal.

 

Bagi kami, rekan-rekan mahasiswa semester 6 PGSD UPI Kampus Cibiru, merancang dan membantu pelaksanaan seminar ini memberikan pelajaran berharga yang tidak kami temukan di bangku kuliah. Kami belajar bahwa menjadi seorang guru sejati bukan hanya tentang seberapa matang kami menguasai materi ajar, melainkan seberapa tulus kami mampu merangkul emosi anak-anak, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak.

 

Perjalanan P3K kami di SDN 09 Cibiru mungkin akan segera berakhir pada penghujung Juni 2026. Namun, kami berharap riak kecil yang kami mulai melalui seminar penguatan karakter ini dapat terus bergulir, membantu SDN 09 Cibiru tumbuh menjadi sekolah yang bebas dari perundungan, ramah bagi setiap anak, dan melahirkan generasi muda yang tangguh berkarakter.

SDG 4 : Pendidikan Berkualitas, SDGs 16 : Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh

  • Dilihat: 17