8 MAHASISWA UPI CIBIRU MELAKSANAKAN PPL DI SEKOLAH INDONESIA LUAR NEGERI (SILN) BANGKOK

 

Bangkok - Sabtu, 16 Februari 2019, Pagi hari yang cerah disertai rasa bahagia yang tergambar dari setiap wajah Mahasiswa serta orang tua dan sanak saudara yang hendak menghantarkan keberangkatan 8 Mahasiswa UPI Kampus Cibiru yang terdiri dari 2 Mahasiswa yang berjurusan PGPAUD dan 6 orang lainya berjurusan PGSD. Senyuman yang indah terpancar dari setiap mahasiwa yang menggambarkan kebahagian pada saatnya tibalah keberangkatan menuju kota Bangkok, Thailand untuk melaksanakan program Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB).

Program PPL wajib diikuti oleh setiap Mahasiswa UPI Cibiru yang telah memasuki semester 8. Namun hal yang menjadi spesial bagi kami adalah ketika kami diberi kesempatan untuk dapat melakukan kegiatan PPL di Luar Negeri melalui program PPL Sekolah Indonesia Luar Negeri. Sebelum kami berangkat menuju kota Bangkok,  satu minggu terakhir kami melaksanakan berbagai serangkaian persiapan. Salah satu kegiatan yang kami lakukan yaitu mengikuti pelepasan yang di selenggarakan oleh Humas UPI yang di hadiri oleh Bapak Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. sebagai Wakil Rektor bidang Riset, Kemitraan, dan Usaha, lalu dihadiri pula oleh Kepala Hubungan Masyarakat UPI yaitu Bapak Dr.Yuliawan Kasmahidayat, M.Si, Bapak Kepala OIER yaitu Bapak Achmad Buchori Muslim, M.A, Ph.D, Kepala Prodi, Dosen Pembimbing, serta 12 orang mahasiswa dari UPI Kampus Cibiru dan UPI Kampus Tasikmalaya.Pesan yang di sampaikan oleh Bapak Wakil Rektor adalah agar kami mahasiswa yang terpilih dapat selalu bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan, lalu senantiasa memberikan yang terbaik dan totalitas saat melaksankan PPL dan membawa nama baik Universitas dengan sebaik-baiknya

Setelah menempuh perjalanan 4 jam di udara. Sampailah kami di kota Bangkok dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju apartemen yang bernama Ratchatevee yang berlokasi di Petchaburi Road yang kurang lebih berjarak 600 meter dari Kedutaan Besar Republik Indonesia yang di dalamnya termasuk lingkungan Sekolah Indonesia Bangkok. Hal pertama yang kami rasakan ketika sampai di bandara Don Mueang adalah cuaca yang berbeda dengan di kota Bandung yaitu cuaca dan suasana yang panas.

Suasana dan keadaan suhu kota Bangkok yang Panas menjadi sesuatu yang baru bagi kami, setelah menunggu beberapa menit kami di arahkan untuk menuju pintu keluar bandara dan mengganti simcard kami dengan simcard yang berlaku di kota Bangkok, dan setelah itu kami langsung menghubungi petugas mobil Venn atau yang kita kenal dengan mini bus telah kami pesan/ sewa sebelumya melalui aplikasi KLOOK dengan harga kurang lebihRp. 1.200.000,- dan mendapatkan bonus simcard dengan kuota unlimited untuk 16 hari masa akif dan menghantarkan kami ke Apartement disekitar Petchaburi Rd. Hal tersebut mempermudah kami untung sampai pada tujuan kami dengan mudah, karena kami masih awam dan belum memahami jalanan di kota Bangkok.

Pertama kali kami memasuki lingkungan Sekolah Indonesia Bangkok pada hari Minggu, 17 Februari 2019 yang dimana kami diundang untuk menghadiri kegiatan yang di adakan oleh tim Gerakan Literasi Nasional “Sagu Sabu dan Sasi Sabu” yaitu dimana seorang guru dan siswa diarahkan untuk dapat menulis buku. Kami di jamu dengan makanan tradisional khas Thailand berupa kue yang dibentuk secara unik dan kami sangat terkesan melihatnya. 

Berbicara tentang Sekolah Indoensia Bangkok yang di pimpin oleh Bp.Olih Sodikul Hikmah dengan guru berjumlah 15 orang dan 1 orang tenaga administrasi serta 78 orang siswa dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini sampai dengan Sekolah Menengah Atas. Lingkungan Sekolah SIB cukup memfasilitasi proses pembelajaran mulai dari  AC dan TV yang ada di setiap kelas, media pembelajaran yang variatif, alat tulis yang lengkap, ruangan olahraga yang terdapat 3 lapangan yang dapat memfasilitasi banyak kegiatan olahraga di sekolah. 

Lingkungan SIB sangat kondusif untuk pembelajaran sehari-hari dikarenakan posisi kelas jauh dari lingkungan jalan raya dan juga ada di lingkungan KBRI yang keamanannya sangat ketat. Hal tersebut di dukung pula dari aspek guru-guru yang sangat professional dalam mengajar. Meski dengan jumlah yang sedikit dapat memfasilitasi setiap jenjang pendidikan dengan baik.  Didapati beberapa hal perbedaan pengelolaan SIB dengan sekolah Indonesia pada umunya, yaitu ketika siswa Sekolah Dasar yang biasanya pengajaran tematik di lakukan oleh 1 guru, namun dikarenakan kurangnya tenaga guru maka sistem sekolah dasar disamakan dengan jenjang lainya yaitu moving class. Hal tersebut dilakukan agar setiap siswa dapat terkondisikan dengan baik.

Kurikulum yang di terapkan  di SIB telah menggunakan kurikulum 2013 meski dengan tenaga pendidik yang tidak banyak guru senantiasa melakukan beragam strategi agar siswa dapat belajar dengan sebagaimana mestinya. Jumlah siswa yang relative berkisar 5 sampai dengan 10 setiap kelas membuat guru leluasa untuk senantiasa memfasilitasi kebutuhan siswa baik secara psikologis, kognitif, serta pengembangan minat dan bakat.

Hal lain yang menjadi spesial di Sekolah Indonesia Bangkok adalah dimana setiap hari Jumat dilaksanakan kegiatan “Character Building and Literasi” ini menjadi kegiatan rutin yang di lakukan dengan kegiatan yang berbeda setiap minggunya, dan juga kegiatan keputrian dimana siswi SIB diajarkan berbagai keterampilan yang bervariasi pula setiap minggunya.

Pada kesempatan PPL di  Sekolah Indonesia Bangkok membuat para mahasiswa begitu senang dan gembira dan dapat memperoleh ilmu-ilmu yang sangat berguna. Meski dengan lokasi yang berbeda tanggung jawab dan kewajiban mahasiswa tetap harus dilaksanakan sesuai ketentuan yang tentunya menyesuaikan dengan kondisi Sekolah Indonesia Bangkok. 

Senin (18-02-2019) ini adalah hari pertama kami diterima secara resmi oleh pihak Sekolah Indonesia Bangkok, penerimaan dilaksanakan melalui apel pagi, disaksikan oleh seluruh guru, tenaga kependidikan dan siswa SIB. Kami memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami berada selama dua bulan disini. Agenda yang kami laksanakan pada hari pertama ini adalah observasi. Ada beberapa hal yang cukup berbeda dengan kondisi sekolah di Indonesia pada umumnya.

Dari segi bangunan, bangunan Sekolah Indonesia Bangkok ini cukup luas karena siswa dari taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas berjumlah kurang dari 100 orang. Setiap kelas merupakan kelas khusus sesuai dengan mata pelajaran, ada kelas matematika, kelas IPA, kelas IPS, dan seterusnya. Sehingga Sistem sekolah di SIB ini adalah moving class sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti kecuali untuk kelas yang sudah menetap secara Tematik.

SIB masih berusaha untuk menerapkan pembelajaran Tematik karena memang sistem kelas yang dirancang sudah sesuai dengan mata pelajaran dan keterabatasan guru juga sehingga belum semua kelas melaksanakan pemebelajaran tematik. Fasilitas yang disediakan SIB cukup lengkap, terdapat dua lapangan besar, satu sport hall, kantin, ruang menari, ruang music, UKS, dapur, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang Tata Usaha, toilet yang bersih untuk siswa laki-laki, perempuan dan toilet guru. Ruang guru juga dilengkapi dengan mesin photocopy yang tersedia untuk keperluan guru dan sekolah. Selain itu selalu teradapat makanan ringan dan berbagai minuman hangat untuk guru.

Sekolah Indonesia Bangkok sering kali menerima berbagai kunjungan dari Indonesia maupun luar negeri, hari ini ada kunjungan dari rombongan kepala sekolah SMP sekabupaten Deli Serdang untuk melakukan studi banding. Hal yang menarik saat itu, salah satu peserta kunjungan yang merupakan kepala sekolah SMP memberikan wejangan bahwa kalian harus mencari masalah dan berusaha untuk menyelesaikannya karena pengalaman yang mahal adalah pengalaman menyelesaikan masalah.

Hari demi hari kami melewati dan menikmati setiap kegiatan yang kami laksankan di Sekolah Indonesia Bangkok mulai dari membuat RPP dan media pembelajaran, mengajar di kelas, membimbing setiap ekstrakurikuler dan kegiatan diskusi asik bersama guru- guru untuk memberikan pengarahan dan bimbingan bagi kami terkait kegiatann yang akan kami laksanakan. Rasa kekeluargaan yang begitu kuat dan sangat kami rasakan, meskipun kami hanya mahasiswa PPL namun guru- guru dan setiap staf sekolah tidak menganggap kami orang asing, namun sudah dianggap menjadi anggota keluarga Sekolah Indonesia Bangkok. Baru tepat 7 hari kami berada di kota Bangkok dan menjadi bagian dari SIB, masih ada 7 minggu lagi yang harus kami lalui disini. Akan banyak cerita atau kisah yang akan kami tuangkan kembali menjadi tulisaan untuk minggu-minggu berikutnya.[Thalia-SIB]